Lombok, Jabarel News - Di saat musik pop modern semakin digital dan serba cepat, sebuah band baru asal Lombok justru memilih melangkah ke arah yang berbeda. Nusaria hadir membawa nuansa pop retro yang hangat lewat single perdana mereka, “Tanpa Nama.” Lagu ini mengangkat cerita yang sangat dekat dengan generasi sekarang: hubungan yang berjalan tanpa status atau yang sering disebut situationship.
Nusaria digagas oleh Yuga Anggana dan Sangga, dua musisi yang sebelumnya dikenal lewat band utama mereka masing-masing. Yuga bermain bersama Dipsy Do, sementara Sangga dikenal melalui Tunggang Gunung. Namun Nusaria bukan proyek ambisius untuk mengejar tren atau industri. Bagi keduanya, proyek ini lebih seperti ruang bermain yang jujur tempat mereka bisa membuat musik tanpa tekanan.
Nama Nusaria sendiri diambil dari dua kata: Nusa, yang merujuk pada Nusa Tenggara Barat tempat mereka bertumbuh dan ria, kata lama yang berarti bersenang-senang. Sebuah nama yang sejak awal mencerminkan semangat mereka dalam bermusik: santai, hangat, dan apa adanya.
Ketertarikan Yuga terhadap karakter vokal Sangga sebenarnya sudah muncul sejak mereka pertama kali bertemu pada 2015. Saat itu Sangga dikenal lewat warna vokalnya yang tinggi dan kuat di jalur rock. Tapi bagi Yuga, ada sisi lain dari suara tersebut yang belum pernah dieksplorasi.
“Dari dulu saya penasaran, bagaimana kalau karakter vokal Sangga dibawa ke musik retro,” ujar Yuga.
Ide itu akhirnya menemukan bentuknya bertahun-tahun kemudian lewat Nusaria. Bagi Sangga sendiri, mencoba warna musik retro justru terasa sangat personal.“Di musik retro, saya merasa bisa lebih jujur secara emosional,” kata Sangga.
Kejujuran itu terasa jelas di “Tanpa Nama.” Lagu ini ditulis Yuga pada awal 2026 dan terinspirasi dari fenomena yang akrab di generasi sekarang: hubungan yang terasa dekat, tapi tidak pernah benar-benar punya definisi.
Cover Musik Nusaria, Jabarel News (14/3/2026).Alih-alih membungkusnya dengan produksi pop modern, Nusaria justru memilih pendekatan vintage. Melodi yang hangat, nuansa analog, serta aransemen yang sederhana membuat lagu ini terasa intim—seperti mendengarkan lagu lama yang tiba-tiba terasa sangat relevan dengan cerita hari ini.
Seluruh instrumen dalam lagu ini dimainkan sendiri oleh Yuga, sementara vokal dipercayakan sepenuhnya kepada Sangga. Proses rekamannya dilakukan di studio milik Yuga, Barline Audiolab, yang juga menjadi rumah produksi bagi rilisan ini.
Menariknya, Nusaria memilih merilis “Tanpa Nama” pada 8 Maret 2026, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Lewat lagu ini, mereka juga ingin menyampaikan pesan reflektif—terutama bagi perempuan—untuk tidak bertahan dalam hubungan yang tidak memberi kejelasan.
Nusaria, Jabarel News (14/3/2026).
Meski baru merilis satu single, Nusaria sudah menyiapkan perjalanan yang lebih panjang. Mereka berencana merilis lagu secara berkala yang nantinya akan dirangkai menjadi sebuah album penuh. Untuk saat ini, Nusaria tetap berjalan sebagai duo, menjaga proses kreatif yang intim antara pencipta lagu dan penyampai suara.
Yuga Anggana dan Sangga, Nusaria, Jabarel News (14/3/2026).
Tanpa ambisi menjadi besar secara instan, Nusaria memilih menjalani musik secara organik. Jika musik mereka menemukan banyak pendengar, itu adalah bonus. Yang terpenting, Nusaria sudah menemukan fungsinya sejak awal: menjadi teman bagi mereka yang pernah mencintai tanpa nama.
Single “Tanpa Nama” sudah dapat didengarkan di berbagai platform musik digital mulai 8 Maret 2026.
Untuk mengikuti perjalanan, proses kreatif, dan cerita di balik musik Nusaria, pendengar dapat terhubung melalui Instagram resmi mereka di @nusaria.id.
Jurnalis : Virgi Ali




0 Komentar